Proses Panen dan Pascapanen Jahe Merah

bibit jahe merah

Panen adalah masa paling ditunggu. Namun, panen bukanlah akhir dari proses panjang budidaya jahe merah. Sejak dari bibit jahe merah sampai pemanenan jahe merah petani perlu memahami betul proses-prosesnya. Ada tiga waktu panen jahe merah, yaitu: panen pada usia muda, sedang, dan tua. Panen jahe usia muda dilakukan ketika jahe berumur 4 -5 bulan. Pada panen usia sedang, dilakukan pemanenan ketika jahe berumur 9 – 11 bulan. Sedangkan panen pada usia tua dilakukan ketika jahe berumur 12 bulan.

Setelah panen selesai, ada masa pasca panen. Pada tahap pascapanenlah petani harus tahu apa yang hendak dilakukan pada jahe merah. Jika ingn langsung dijual, maka petani minimal harus melakukan pembersihan rimpang dari tanah yang menempel.

Dalam proses pascapanen butuh tenaga dan alat khusus. Contohnya, ketika panen tiba, Anda butuh cangkul.

Masa Panen

Jahe merah segar dapat dipanen saat usianya mencapai sudah 9 – 11 bulan. Ketika usia itu, jahe tampak segar dan memiliki bobot yang ideal. Jika jahe sudah berusia 12 bulan, jahe sudah tua, mengkerut dan memiliki bobot yang lebih ringan. Jadi, untuk dijual, hasilnya tak terlalu banyak. Jahe tua (berusia 12 bulan) lebih cocok untuk dijadikan bibit. Pada usia tersebut jahe memiliki kondisi rimpang yang kuat dan matang.

Jahe siap panen dapat dilihat dari bentuk fisiknya. Jahe merah yang rimpangnya siap dipanen memiliki daun yang sudah berwarna kuning dan tampak mengering. Hal itu adalah tanda bahwa tanaman sudah masuk usia tua. Namun, Anda juga harus jeli, mana daun yang kuning karena tua dan mana yang kuning karena terserang penyakit atau hama.

Ada cara panen jahe merah. Memanen jahe merah tak boleh dilakukan secara sembarangan. Anda harus tahu teknik dan caranya.

Untuk jahe yang dibesarkan di media polybag, pemanenan jauh lebih mudah. Anda hanya perlu merobek polybag untuk mengambil rimpang jahe. Lalu, Anda bisa memulai pembersihan akar dan kotoran yang menempel pada rimpang.

Namun, pada penanaman menggunakan sistem bedengan, Anda memerlukan alat seperti cangkul atau alat penggaruk lainnya untuk memanen jahe merah. Pada pemanenan, Anda perlu hati-hati. Jangan sampai Anda melukai rimpang yang dipanen. Sebab, rimpang yang terluka rentan busuk dan terserang hama. Kualitas rimpang yang tergores pun akan ikut turun.

Proses Pascapanen

Setelah panen atau pengangkutan rimpang, ada beberapa proses lagi yang perlu dilakukan. Ilmu tentang penanganan pascapanen sangat perlu dilakukan dengan baik dan benar. Hal ini bertujuan agar kualitas rimpang jahe merah tetap terjaga dengan baik sampai ke tangan konsumen.

  1. Pengeringan Rimpang

Setelah rimpang selesai dibersihkan, proses berikutnya adalah pengeringan. Ada petani yang menjual rimpang jahe dalam keadaan segar. Namun, ada pula yang lebih memilih menjual rimpang jahe dalam keadaan kering. Proses pengeringan ini bertujuan agar rimpang bisa bertahan lebih lama dalam gudang penyimpanan sebelum diolah lebih lanjut.

Pasca penyucian, rimpang jahe ditiriskan. Anda bisa memanfaatkan sinar matahari yang terik. Biasanya, dalam proses pengeringan, jahe merah akan diletakkan di atas anyaman bambu yang tak terlalu rapat. Proses ini dilakukan hingga kadar air pada rimpang menjadi 8 – 10 %.

Selain dikeringkan dengan cara dikering anginkan, rimpang jahe bisa dijemur langsung di bawah sinar matahari atau dikeringkan menggunakan udara panas yang mengalir. Setelah itu, rimpang bisa langsung dikemas atau diolah.

  1. Proses Pengemasan

Pengemasan sangatlah penting. Pengemasan tak hanya mempercantik tampilan, tapi juga harus bisa menjaga kualitas jahe merah agar tetap baik ketika sampai di tangan konsumen.

Jadi, proses pengemasan harus dilakukan secara hati-hati dan tidak serampangan. Anda harus memasukkan rimpang satu per satu. Anda perlu menyusun rimpang secara teratur. Jika pengemasan dilakukan dengan sembarangan, rimpang bisa saja rusak saat sampai pada konsumen. Rimpang yang rusak menjadi nilai minus bagi seorang pembudidaya.

Dalam proses pengemasan, Anda perlu memisahkan rimpang berdasarkan ukurannya. Wadah yang digunakan bisa berupa peti kayu atau karung yang punya cukup lubang udara. Setelah rimpang ditata secara teratur dalam wadah, jangan lupa untuk menutup wadah dengan kencang dan baik. Jangan sampai saat proses pengiriman wadah terbuka dan rimpang tumpah dan rusak.

  1. Penyiapan Rimpang

Kadang, sebelum rimpang dikirim ke konsumen, pembudidaya perlu menyimpannya terlebih dahulu. Setelah pengemasan selesai dilakukan, jika rimpang tak segera dikirim ke pemesan, maka selayaknya rimpang disimpan digudang penyimpanan untuk menunggu sementara waktu.

Tempat penyimpanan yang baik adalah yang memiliki sirkulasi udara yang cukup dan ada sinar matahari atau pun cahaya dari lampu. Sebab, dengan begitu, ruangan tidak lembab. Ruangan yang lembab berpotensi menciptakan banyak penyakit yang mengancam rimpang. Jamur merupakan penyakit rimpang yang mudah muncul ketika kondisi ruangan lembab.

  1. Pengangkutan Rimpang

Rimpang yang dikemas atau telah parkir digudang bisa langsung dikirim dan didistribusikan. Jika rimpang telah didiamkan dalam gudang, perlu adanya pengecekan ulang apakah ada rimpang yang rusak atau tidak.

Jangan sampai ketika sudah di tangan konsumen ternyata ada beberapa rimpang yang rusak dan memiliki kualitas yang tak baik. Pemeriksaan ulang ini sangat diperlukan guna menjaga kepercayaan konsumen terhadap pembudidaya. Pengangkutan bisa menggunakan mobil terbuka, mobil pikap, ataupun truk jika itu dalam kuantitas yang banyak.

**

Jika Anda tertarik untuk memulai menjadi pembudidaya jahe merah, Vista Agro siap membantu menyediakan bibit jahe merah unggulan yang terpercaya. Bibit jahe merah unggul berpengaruh pada hasil panen yang lebih maksimal. Jika Anda berlokasi di sekitar Jogja, Anda bisa dapat langsung ke tempat kami di Dusun Rejek Lor, RT 02/ RW 24, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. Kami juga bisa dihubungi di nomor WhatsApp (WA): 082136461851

Keadaan Tanah yang cocok Untuk Budidaya Jahe Merah

 

Keadaan Tanah yang cocok untuk jahe merah

Tanaman jahe merah cocok hidup pada tanah gembur. Tanah yang gembur biasanya mengandung unsur organik atau unsur hara yang tinggi sehingga diharapkan menghasilkan panen yang maksimal dan memuaskan. Tanah yang mengandung unsur organik bisa berasal dari kotoran ternak semacam kambing, kelinci, sapi dan lain sebagainya yang telah terurai dengan tanah serta sisa sisa humus atau kompos.

Sebagian besar jenis tanah di Indonesia cocok digunakan untuk bercocok tanam jahe merah. Apalagi saat ini menanam jahe merah tidak harus di tanah atau bedengan. Bisa juga menggunakan karung atau polybag. Bahkan, menggunakan karung atau polybag kita bisa mengolah tanah sesuai dengan kebutuhan hidup jahe merah.

Berikut beberapa jenis tanah yang cocok digunakan untuk budidaya jahe merah.

Tanah yang cocok

tanah andosol untuk jahe
tanah andosol

Jenis tanah yang baik untuk digunakan menanam jahe merah adalah andosol. Tingkat kesuburan tanah andosol lebih baik dibandingkan tanah latosol. Tanah andosol memiliki warna hitam kelabu sampai coklat tua. Memiliki tekstur agak berpasir, berdebu dan mengandung tanah liat. Tanah ini cenderung gembur dan memiliki pH antara 5,0-7,0. Tanah ini cocok dimanfaatkan untuk menanam jahe merah mengingat kandungan unsur hara dan zat organik yang tinggi.

tanah latosol jahe merah
tanah latosol

Tanah latosol memiliki warna merah yang kesuburannya dalam tingkat sedang. Tanah latosol biasanya berwarna merah coklat hingga kuning. Tekstur liat dan memiliki sifat gembur. Kandungan unsur hara dan kadar organiknya tinggi, meski sedikit di bawah andosol.  Walau demikian jenis tanah latosol cocok untuk tanaman jahe merah. Hanya saja tingkat produksi panennya masih kalah dibanding tanah andosol.

Campuran tanah latosol dan andosol juga bisa dipakai untuk budidaya jahe merah. Pasalnya, perpaduan kedua sifat tanah ini bisa menjadikan tanaman lebih kuat tertancap di tanah. Sekaligus memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh kembang rimpang.

Selain mengoplos tanah, petani jahe merah juga bisa mengoplos dengan campuran pupuk organik semacam pupuk kandang atau kompos. Tujuannya supaya tanah menjadi subur dan gembur dan cocok untuk tumbuh kembangnya tanaman jahe merah.

Tanaman jahe merah dapat tumbuh di ketinggian 1,500 dpl. Namun cocok pula ditanam di ketinggian 500-950 dpl. Tentunya dengan syarat keadaan tanahnya subur atau gembur, mendapat sorotan matahari yang cukup, dan perawatannya yang maksimal.

Anda berminat budidaya jahe merah? Kami sedia bibit jahe merah dan siap kirim kirim ke seluruh pelosok nusantara. Untuk anda yang berlokasi area Jogja, Bantul, Kulon Progo, Klaten, Sleman, Magelang silahkan datang ke tempat kami atau cod di area tersebut. Namun, bila anda berlokasi jauh semacam Jakarta, Depok, Semarang, Surabaya, Makassar, Lampung, Medan, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Barat, NTT, Bali, Banten, Jawa Timur, Banyuwangi, Kediri, Jember, Ponorogo, Madiun, Ngawi, Sidoarjo dan lain sebagainya bisa dengan jalur darat, udara dan laut sesuai permintaan konsumen.